Pangeran dan Putri Cantik

                                  Pangeran dan Putri Cantik

                           

Dahulu kala pada zaman pra sejarah, pada masa kekuasaan raja muda bernama ‘La Kai’−di wilayah kerajaan Bima, terdapat sebuah desa kecil yang terletak di wilayah pegunungan Doro Era. Desa itu dihuni oleh masyarakat yang kehidupannya mengandalkan berburu dan bercocok tanam. Semua perkakas rumah tangga mereka berbahan dasar batu. Mulai dari tempayan, alat tenun, tempat penyimpanan makanan, serta alat bertani dan berburu. Masyarakat Doro Era hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain. 

Desa itu dipimpin oleh seorang ‘Ncuhi’ atau kepala suku yang tinggal bersama seorang istri dan dua orang anak. Anak pertama mereka adalah seorang pemuda yang memiliki paras wajah tampan, berbadan tegap serta pemberani dan bijaksana. Dia pandai berburu, dan tombak yang selalu dia gunakan untuk berburu terkenal dengan nama ‘La Ka’a Mandona’. Pemuda itu bernama La Raji.

Anak kedua dari Ncuhi tersebut adalah seorang gadis yang baik budi pekertinya, dia adalah La Raho. La Raho ketika dia beranjak remaja, dia sering meninggalkan desa untuk melihat keadaan di desa-desa lain yang wilayahnya berada di wilayah terdekat dengan Doro Era. Untuk mencapai desa-desa terdekat, La Raho harus melewati lembah-lembah, naik turun bukit dan melewati beberapa Ngarai.

Terdapatlah sebuah desa yang desa itu dihuni oleh beberapa keluarga, desa itu bernama Doro Ncona. Suatu hari La Raho singgah di Doro Ncona, dia berkeliling desa. Di desa itu sedang menyabar sebuah rumor diantara para pemuda desa, bahwa jauh diatas bukit tertinggi Doro Ncona, ada seorang gadis dari sebuah keluarga yang sedang menyepi. Karena penasaran, La Raho akhirnya bertanya kepada salah seorang penduduk desa, “Siapakah gerangan gadis yang dimaksud?” 

Penduduk desa itu menjawab dengan penuh pujian kepada si gadis, “Dialah La Dija Sangga. Si gadis cantik jelita, yang kecantikannya bagaikan bidadari yang turun dari kayangan.”  

Rasa ingin tahu La Raho menguasai, secantik apakah gadis itu? Diapun menaiki bukit Doro Ncona dan meninggalkan pemukiman warga untuk menemui La Dija Sangga. Setelah berjalan beberapa lama, dia akhirnya berada di bukit tertinggi Doro Ncona. Disana, ada sebuah pondok kecil yang sederhana yang dihuni oleh seorang gadis cantik jelita, paras wajahnya seperti bulan purnama. Begitu melihat gadis itu La Raho seperti terhipnotis oleh kecantikannya, terlintas dalam pikirannya untuk menjadikan gadis itu saudaranya.

Sejak saat itu, La Raho sering menemui La Dija Sangga di pondakan kecilnya karena dipertemuan mereka yang pertama mereka telah menjadi seorang teman.

Jauh dari Doro Ncona, di Doro Era−La Raji, saudara laki-laki La Raho merasa penasaran, gerangan apa yang membuat saudara perempuannya sering meninggalkan desa hanya untuk ke Doro Ncona? Terbesitlah keinginannya untuk bertanya kepada La Raho. “O Amancawae−(saudara perempuan), sekiranya hal apa yang ada di Doro Ncona yang membuat engkau sering pergi ke sana?”

La Raho menjawab, “Iyo Amaniae−(saudara laki-laki), aku pergi menemui seorang perempuan yang parasnya secantik ‘ana fare pidu’−(bidadari). Dialah La Dija Sangga, bunga desanya Doro Ncona.”

Mendengar berita kecantikan La Dija Sangga dari saudaranya, La Raji menjadi tidak tenang. Betapa penasarannya dia pada gadis itu. Keinginannya untuk segera bertemu gadis itu muncul seiring berjalannya waktu. Suatu hari, sepulangnya La Raji berburu dengan anjing hitam yang selalu menemaninya, dia menemui seluruh keluarganya. La Raji mengutarakan keinginannya untuk bertemu La Dija Sangga.

Pergilah La Raji dan La Raho menemui La Dija Sangga dan keluarganya di Doro Ncona. Pada saat itu La Dija Sangga baru saja turun dari bukit untuk kembali tinggal dengan keluarganya.

Sampailah La Raji dan La Raho di Doro Ncona dan bertemulah ia dengan La Dija Sangga. Begitu melihat La Dija Sangga, La Raji langsung terpikat oleh kecantikannya dan dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada La Dija Sangga.

Kedatangan La Raji ke Doro Ncona untuk menemui La Dija Sangga disambut baik oleh kedua orang tuanya La Dija Sangga, dan pada saat itu juga La Raji mengutarakan perasaannya kepada La Dija Sangga dan dia melamar La Dija Sangga untuk diperistrinya. Mendengar itu La Dija Sangga menjadi murka, dia marah besar kepada La Raji karena begitu lancang terhadapnya. Dia menganggap bahwa La Raji tidak pantas menjadi suaminya. Diapun menolak lamaran La Raji. La Raji dan La Raho kembali ke Doro Era dengan perasaan kecewa, tapi meskipun demikian La Raji tidak patah semangat. Dia akan terus menemui La Dija Sangga dan meyakinkan gadis itu.

Sepeninggalannya La Raji dan La Raho, La Dija Sangga menjadi tidak tenang. Lamaran La Raji membuatnya resah. La Dija Sangga yang merasa bahwa La Raji tidak pantas untuk dirinya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Doro Ncona. Diapun pergi jauh menuruni bukit-bukit, melewati banyak lembah untuk menemui Dewa kepercayaannya yang ada di bukit Lido. Dewa Kalea−begitu La Dija Sangga menyebutnya. Dewa itu adalah makhluk halus yang menyala merah seperti api, dia berterbangan disekitar bukit Lido.

Bertemulah La Dija Sangga dengan Dewa Kalea. Dewa Kalea menanyakan maksud kedatangan La Dija Sangga menemuinya, La Dija Sangga menjawab, “Wahai Dewa Kalea, aku menemuimu untuk memohon belas kasihmu. Hari ini ada seorang pemuda yang datang melamarku dan aku telah menolaknya. Kedatangan pemuda itu membuatku resah karena aku merasa dia tidak pantas untukku dan aku tidak ingin dia menemuiku untuk yang kedua kalinya. Jadi, aku mohon kepadamu untuk menyihirnya. Turunkanlah sebuah penyakit kepadanya yang akan merubah dia menjadi seseorang yang sangat menjijikan dan dijauhi oleh masyarakat. Sehingga dia tidak punya keberanian lagi untuk menemuiku.”

Dewa Kalea mendengar permohonan La Dija Sangga dan mengabulkannya. Diapun menyihir La Raji saat itu juga.

Keesokan harinya, ketika La Raji terbangun dari tidurnya dia merasakan gatal-gatal, bau busuk keluar dari dalam tubuhnya yang segera dia sadari telah penuh dengan luka-luka bernanah yang menjijikan. Dia menderitas penyakit kudis. Dan hanya dalam waktu singkat, La Raji dijauhi oleh masyarakat Doro Era dan dikucilkan, kemanapun dia pergi. La Raji sangat menderita dengan kondisinya, karena itu dia hanya menghabiskan waktu dengan berburu sendirian di hutan setiap harinya. Dia keluar dari rumahnya sebelum ayam berkokok dan kembali ke desanya setelah fajar menyingsing.

Di Doro Era, La Raji telah selesai berburu. Dia membawa satu ekor Rusa hasil buruannya untuk dia hadiahkan kepada keluarganya. Ketika dia memasuki desa dan melewati saung tempat ayahnya berbaring, betapa syoknya La Raji ketika mendapati tubuh ayahnya yang tak berkepala dan telah kehilangan nyawa. Spontan La Raji menjadi kalang kabut dan menyusuri bukit mencari jejak pembunuh ayahnya, tapi Ngaro La Ngawu dan pasukannya telah berada jauh meninggalkan desa. Jejak mereka tidak bisa dilacak lagi dan akhirnya tidak seorang pun masyarakat dari Doro Era yang mengetahui siapa pembunuh Ncuhi  mereka.

Penderitaan La Raji bertambah, selain dia dikucilkan dari lingkungannya, ayahnya pun telah meninggal. Sejak saat itu La Raji memutuskan dan meminta ijin kepada keluarganya untuk meninggalkan Doro Era. Dia menyusuri perbukitan dan menuju arah Barat dengan memikul tombak pusakanya ‘La Ka’a Mandona’ dan didampingi oleh anjing kesayangannya untuk menyendiri disebuah tempat yang jauh dari masyarakat, sampailah dia disebuah Goa batu−berada disekitar wilayah Sie, Bima−yang sampai
saat ini Goa itu bernama ‘Karombo La Raji”. La Raji pun menetap di Goa tersebut.

Didekat Goa itu ada sebuah sungai kecil yang airnya sangat jernih tapi kedalamannya dangkal, melihat itu La Raji memutuskan untuk menanami keladi atau talas disepanjang sungai di area pegunungan tersebut, isi talas tersebut dipanennya sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari−selain memakan dari hasil buruannya.

Selama La Raji menetap di Goa tersebut, La Raji menyibukkan diri dengan membuat ramuan dari segala jenis tumbuhan untuk menyembuhkan penyakitnya, dan sesekali pula dia menuruni bukit dan pergi ke desa-desa terdekat untuk mencari tabib yang mungkin bisa menyembuhkannya. Tapi usahanya sia-sia, setelah berbulan-bulan dalam masa pencarian, tidak ada satu ramuan atau satu tabibpun yang berhasil menyembuhkannya. Bahkan pakaiannya telah compang camping dan penuh dengan tambalan karena begitu seringnya dia naik turun bukit.

Berbulan-bulan telah berlalu, La Raji masih mengasingkan diri didalam Goa sambil mencari ramuan-ramuan untuk menyembuhkannya. Suatu ketika, dia menuruni bukit, dia berjalan menyusuri sungai tempatnya menanam talas, jauh dari sungai yang kini menjadi pusakanya−warisannya−dia melihat seorang nenek yang sedang menjala ikan di air sungai yang dangkat tapi tenang. La Raji mendekati nenek tersebut, dia melihat nenek itu mengangkat jalanya, didalam jalanya ada beberapa keong emas yang tersangkut. Tanpa berpikir panjang, La Raji meminta kepada si nenek untuk memberikan keong tersebut kepadanya−dia berpikir mungkin keong tersebut bisa menyembuhkan lukanya. Nenek itu menyerahkannya.

La Raji bertanya kepada si nenek, siapakah dia? Nenek itu menjawab, bahwa dia adalah seorang tabib yang juga menguasai ilmu-ilmu sihir. Mendengar itu La Raji merasa sangat gembira dan akhirnya dia meminta sang nenek untuk menyembuhkannya. Si nenek menyetujuinya dan mengikuti La Raji ke Goa tempat La Raji tinggal.

Berhari-hari La Raji menjalani pengobatan bersama si nenek, keong dan berbagai macam tumbuhan digunakan sebagai ramuan obat. Hari berganti, bulan berlalu dan akhirnya genap satu tahun mereka tinggal di Goa untuk menyembuhkan La Raji. Kerja keras itu menuai hasil, La Raji pun sembuh.

Kesembuhan La Raji mengingatkannya kembali kepada cintanya La Dija Sangga yang cantik jelita. Diapun memutuskan untuk kembali ke desanya Doro Era dan menjalankan tugasnya sebagai seorang Ncuhi, dan hanya beberapa saat setelah dia kembali, La Raji memutuskan untuk menemui kembali La Dija Sangga. Pergilah dia ke Doro Ncona bersama si nenek dan saudara perempuannya La Raho untuk meminang La Dija Sangga. Dan seperti sebelumnya, La Dija Sangga menolak lamaran tersebut. La Raji tidak putus asa, dia terus mencobanya dan berkali-kali datang menemui La Dija Sangga−tapi hasilnya tetap sama, berkali-kali itu pula La Dija Sangga menolaknya.

Mulai lelah dan putus asa karena terus ditolak lamarannya oleh La Dija Sangga, La Raji pun memutuskan untuk meminta bantuan kepada si nenek−yang juga memiliki ‘ilmu pemikat’−untuk menyihir La Dija Sangga−agar gadis itu menyukainya dan mau menerima lamarannya. Ilmu sihir si nenek sangat ampuh dan meluluhkan hati La Dija Sangga. La Dija Sangga akhirnya menyetujui dan menerima lamaran La Raji.

Sebelum hari pernikahan keduanya tiba, serangkaian acara adat dijalankan, salah satunya ‘Paki Oi Ndeu’ atau membuang dosa untuk calon pengantin baru. Masyarakat waktu itu percaya, bahwa jika calon pengantin melakukan proses ‘Paki Oi Ndeu’ atau mandi ditempat khusus, dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh si calon penganti itu akan hilang terbawa arus air. La Raji dan La Dija Sangga dibawa ke
sebuah tempat pemandian yang terletak ditengah gunung Ndao, yang saat ini pemandian itu bernama ‘Bombo Ncera’ utnuk melakukan proses ‘Paki Oi Ndeu’. Pemandian itu adalah sungai dengan banyak air terjun yang berlapis-lapis, serta beberapa kolam yang terbentuk dari batu-batu cadas alami disekitarnya.

La Raji mandi di air terjun kembar dua, sementara diatasnya, La Dija Sangga mandi di
kolam air terjun di lapisan pertama, sebuah air terjun dengan kolam yang lebih besar dari kolam yang pakai oleh La Raji, dibawah pohon Na’a.

La Dija Sangga memasuki kolam air dan duduk dibawah air terjun, dia menikmati tetesan keras dan dinginnya air gunung yang membasahi rambut dan seluruh tubuhnya. Secara perlahan, air yang turun itu mematahkan sihir pemikat dari sang nenek, sihir yang sedang menguasainya menghilang seolah dibersihkan dan terbawa bersama arus air yang mengalir. La Dija Sangga tersadar sepenuhnya. Dia
mengingat dan menyadari semua yang telah dia lakukan sejak menerima lamaran La Raji bukanlah kemauannya yang murni. La Dija Sangga pun marah dan bersumpah akan membalas La Raji.

Setelah selesai proses ‘Paki Oi Ndeu’, La Dija Sangga kembali ke keluarganya. Tibalah hari dimana proses lamaran secara resmi diadakan, pergilah La Raji dan La Raho ke Doro Ncona untuk menemui La Dija Sangga, disana La Dija Sangga menyambut La Raji dengan perasaan tidak senang. La Raji segera menyadari bahwa sihir pemikatnya kepada La Dija Sangga telah batal. La Raji pun meminta kepada La Dija Sangga untuk tidak membatalkan pernikahan mereka, dan La Dija Sangga menyetujuinya dengan mengajukan sebuah syarat.

Syarat yang diajukan oleh La Dija Sangga kepada La Raji adalah, untuk dapat memperistri dirinya, La Raji harus membawa mahar atau mas kawin sebanyak seribu balas beras−balase adalah sejenis karung yang terbuat dari anyaman daun Laju dan sejenisnya, berukuran kecil seperti kantong berisi lima kilo gram beras−beras seribu balase itu harus telah selesai dikumpulkan sebelum ayam jago berkokok. Apa bila persyaratan itu tidak dipenuhi maka pernikahan keduanya akan digagalkan.

La Raji pun menyanggupi persyaratan itu.

Dengan bergegas bercampur gembira, buru-burulah La Raji beserta keluarganya kembali ke Doro Era untuk mengumpulkan beras sebanyak seribu balas. La Raji menyampaikan kepada seluruh masyarakat Doro Era tentang persyaratan yang telah diajukan oleh La Dija Sangga kepadanya, masyarakat Doro Era menyambutnya dengan suka cita. Mulailah para laki-laki mengumpulkan semua padi yang ada di Doro Era, para gadis dan ibu dikumpulkan untuk menumbuk padi bertumpuk-tumpuk yang telah dikumpulkan oleh para lelaki untuk di tumbuk menjadi beras. Antang dan lesung dikumpulkan disatu tempat, dan mulailah para perempuan Doro Era menumbuk padi, dan kaum laki-laki memasukkan padi yang telah menjadi beras kedalam balase dan mengumpulkannya disebuah tempat secara teratur agar mudah dihitung jumlahnya. Kesibukan warga desa tak terbayangkan.

Menjelang tengah malam pekerjaan mereka hampir selesai. La Dija Sangga yang saat itu tidak mau menikah dengan La Raji menjadi panik dan resah. Kemudian terbesit dipikirannya rencana untuk menggagalkan La Raji, dikumpulkannya lah para pemuda diseluruh Doro Ncona untuk memukul kentongan dan membunyikannya. Mendengar suara kentongan bertalu-talu, ayam jago terjaga dari tidurnya dan berkokok bersahutan satu sama lain mengira pagi telah datang.

La Raji sangat kaget ketika mendengar suara ayam berkokok sementara hari masih dini. Dilain sisi, pekerjaan mengisi beras di balase masih belum selesai, hanya tinggal sedikit lagi.

Tapi dengan itu, La Raji telah gagal memenuhi persyaratan dari La Dija Sangga untuk memperistri dirinya.

Karena kegagalannya, La Raji menjadi berang dan marah. Dia mengamuk. Dia mengeluarkan sumpah serapah, La Raji menyumpahi beras yang telah diisi kedalam balase tersebut agar menjadi tumpukan batu. Dia juga menyumpahi La Dija Sangga, agar gadis itu menjadi api yang membara. Seketika itu juga, balase-balase berisi beras itu berubah menjadi batu. Dan hingga sekarang di Doro Era, terdapat batu-batu yang tersusun rapi yang berbentuk seperti balase.

Sementara La Dija Sangga berubah menjadi api−dan api jelmaan La Dija Sangga sesekali terlihat diudara, dia terbang dari Doro Ncona menuju Doro Dewa Kalea. Masyarakat masih mempercayainya hingga sekarang, dan sesekali ada yang mengatakan mereka melihat api yang terbang disekitaran gunung Soki (berada didekat Doro Lido tempat Dewa Kalea berada) dan percaya bahwa itu adalah api jelmaan La Dija Sangga.

Sementara La Raji, bagi masyarakat yang sekarang hidup di desa Ncera, kecematan Belo kabupaten Bima-NTB, (Desa yang terletak dikaki bukit Doro Era dan Doro Ncona) percaya bahwa La Raji adalah Parafu−atau arwah pelindung desa. Kepercayaan itu masih dianut oleh masyarakat hingga beberapa tahun yang lalu dan mulai pudar seiring dengan masuknya modernitas dan berkembangnya zaman.



 

Komentar

  1. Waah keren ceritanya. Ditunggu cerita lainnya yaa👍👍

    BalasHapus
  2. Baguss ceritaaanya, semangat teruss

    BalasHapus
  3. Ceritanya bagus, semangat terusss💪💪

    BalasHapus
  4. Keren sekali kak semangat terus untuk berkarya🥰

    BalasHapus
  5. Kerenn, Teruslah untuk Merekonstruksikannya, Ditunggu cerita lainnyaa.

    BalasHapus
  6. Membaca blog ini menambah nilai sejarah dan budaya bagi sy pribadi sebagai pembaca. Terima kasih Auliya semangat terus tebar hal positif dan ditunggu untuk karya yang lainnya.

    BalasHapus
  7. Terimakasih kepada penulis, semangat terus🙏🏻

    BalasHapus
  8. Ceritanya bagus:)Semangat��

    BalasHapus
  9. Bagus ceritanya semangat terus 🙏

    BalasHapus
  10. Tulisan yang bagus, semangat berkarya 👍

    BalasHapus
  11. Cerpen yang menarik, semangat terus ya dan ditunggu cerpen² selanjutnya 😊

    BalasHapus
  12. Waahhh menarik sekali
    Kembangkan👍

    BalasHapus
  13. Cerpennya bagus, semangat terus

    BalasHapus
  14. Mantap sih, harus ini di kembangkan😁

    BalasHapus

Posting Komentar